Dua pekan yang lalu, kami masih bercerita seperti biasa. Ruang Senat Mahasiswa biasanya ramai dengan gelak ketawa junior yang masih hijau, hari ini raib. Hanya aku dan Tamim di ruangan yang sesak dengan kepulan asap kretek. Ruang senat berubah menjadi ruang kendali lokomotif, terus berasap sejak sore tadi. Ku lihat jemari sahabat karibku itu bermain di atas papan tuts keyboard. Sesekali pandangannya menerawang ke jendela yang tembus menghadap pekarangan fakultas. Satu dua kali ia bertanya tentang padanan kata, mengadu diksi, menyunting tulisannya yang sarat kutukan dan sumpah serapah. Aku tak sesibuk dia yang kerap mengomandoi aksi demonstrasi, merongrong kebijakan kampus yang tak pro mahasiswa. Tulisanku telah kuselesaikan sepekan yang lalu. Niat ke kampus setiap hari hanya untuk melepas kebuntuan di kamar kos,motifku semata untuk memperoleh kretek dan kopi gratis traktiran junior yang menjiwai nilai solidaritas, tepatnya kasihan pada seniornya yang tak lagi dibiayai pemerintah.
Ku dengar nada shutdown windows dari speaker komputernya. Agaknya Tamim sudah menyelesaikan tulisannya. Aku tak pernah ia biarkan membaca karyanya sebelum selesai, ku tebak, karya yang ini pun seperti tulisan sebelumnya. Penuh nada dan amarah pemberontakan. Tamim bergeser mendekat ke arahku, ia berbaring di dekat dinding sekretariat yang kumal, sarat dengan nilai sejarah.
Aku diam saja melihat gelagat Tamim yang dirundung kecemasan, menanti kurang lebih sepekan sebelum vonis drop out dari komisi disiplin kampus. Aku tau betul pribadi sahabat karibku yang satu ini. Dari tampakan luar, ia tampak kokoh, tegar, pria tanpa sisi kelembutan sedikitpun. Tapi sebagai sahabatnya dan sebagai seorang perempuan yang pernah akrab dengannya melebihi perempuan manapun, aku tau, dirinya tak lebih seperti tangkai rapuh, bakal rubuh jika tersenggol angin.
“Untuk apa sebenarnya semua yang kulakukan Tin?”
Tamim memancing pertanyaan yang retoris, lagi-lagi mungkin hanya dia yang tau jawabannya.
“Kurasa kau tak butuh jawaban dari orang-orang sepertiku, Mim.”
“Setelah semua perlawanan, jerih payah serangan atas nama kemaslahatan rakyat. Inilah akhirnya. Aku tersudut tanpa satupun tangan meraihku.”
“Aku sudah mengingatkanmu jauh sebelum semuanya dimulai. Jangan gemar bermain api. Tengoklah sekarang.”
Tamim memandangku dengan bibirnya yang retak. Mungkin tak mengira, kata-kataku tak ada nilai penyemangatnya sama sekali.
Aku sebenarnya iba padanya. Tamim seperti serigala di mataku. Garang tapi kesepian. Ia telah menyerah pada nasib, dikeluarkan dari kampusnya karena menjadi motor penggerak kerusuhan besar di kampusnya. Memperjuangkan hak orang lain, sedang haknya belakang hari tak terbela. Semua orang yang dibelanya tiba-tiba amnesia, menutup mata atas vonis yang menimpanya.
“Aku tak akan melampaui putusan atas diriku, Tin. Cukuplah bagiku semua ini”
“Apa ada yang bisa kulakukan untukmu?”
“Tak usahlah. Aku sudah capek. Kau bantu saja sukseskan penerbitan buku kita.”
“Pasti. Janganlah pusingkan soal itu. Setelah ini kau bagaimana?”
“Mungkin pulang ke kampung membangun desa.”
Aku hanya mengangguk. Pembahasan ini terasa hambar. Rasanya kami tak mampu lagi membuat cair suasana.
Hari itu adalah hari terakhir kulihat Tamim. Seminggu setelahnya, putusan drop out atas dirinya berkekuatan hukum tetap. Tamim bukan lagi mahasiswa di kampus kami. Sehari itu berlalu tanpa ada gejolak, diam dan tenang sebagaimana biasa. Dari bangku di halaman fakultas, aku membaca tulisan terakhir milik Tamim yang telah kami terbitkan dalam ontologi esai. Sampul depan menghiasi karyanya, sengaja kudedikasikan untuk mengenangnya sebagai sahabat dan pemimpin.
Tulisannya tidak bernada pemberontakan dan sumpah serapah seperti yang kukira. Hanya warna kekecewaan yang menonjol dengan pesan moril yang mendalam. Ia bercerita, kampus tak lebih bagus dari ladang peternakan manusia. Sistem telah merusak setiap inci dari budaya dan kultur keilmuan masyarakat. Tak ada gunanya memperbaiki seluruh bagian yang terkontaminasi. Pesan terakhir Tamim dalam tulisannya kurang lebih mengajak pembaca untuk menjadi sentimen, individualistik dan jangan pernah naif mementingkan orang lain dari diri sendiri.







0 comments:
Posting Komentar